Kisah Uwais Al-Qarni

Sejarah Uwais Al-Qarni, Sejarah keinginan nabi, Sejarah pertemuan dengan khalifah Umar dan kematian Uwais Al-Qarni. Sumber : waheedbaly.com

Assalammuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mungkin sebagian dari kita tidak tahu banyak tentang bagaimana kisah Uwais Al Qorni tentang seorang pemuda tampan dari Yaman, yang hanya memiliki ibu yang matang, melayani seluruh hatinya.

Adalah Uwais Al Qorni, seorang pemuda tak dikenal yang dikenal di langit, yang mengikuti ceritanya.

Kisah Uwais Al-Qarni

Pada zaman nabi sallallaahu ‘alaihi Wassalam, hidup seorang pemuda dengan mata biru, rambut merah, dada terbuka panjang dan kulit merah yang indah, wajahnya selalu melihat tempat sujudnya dan tangan kanannya bertumpu di tangan kirinya.

Pemuda itu tidak pernah membaca Alquran dan selalu menangis, hanya mengenakan dua potong, hancur dan tidak cocok untuk dipakai sampai tidak ada yang memperhatikan. Itu tidak diketahui oleh penghuni bumi tetapi sangat terkenal di langit. Pemuda ini, jika dia bersumpah demi Allah, akan terpenuhi.

Itu Uwais Al-Qarni. Dia tidak dapat dikenali dan miskin, meskipun banyak yang mencemoohnya, mencemoohnya dan menuduhnya pencuri dan banyak penghinaan lainnya.

Gambar Uwais Al-Qorni

Uwais Al-Qarni dari Yaman telah lama menjadi yatim piatu, tidak memiliki saudara laki-laki hanya ibunya yang sudah tua dan lumpuh, dalam kehidupan sehari-hari, Uwais Al-Qorni telah menjadi pendeta.

Upah yang ia hasilkan cukup untuk tinggal bersama ibunya: jika ia memiliki lebih banyak uang, ia akan membantu tetangganya yang miskin dan miskin. Terlepas dari kerja kerasnya, dia tidak pernah mengabaikan untuk merayakan pemujaannya, paling tidak. Selama hidupnya, ia berpuasa di siang hari dan belajar di malam hari.

Uwais al-Qarni masuk Islam di Yaman ketika dia mendengar panggilan nabi Muhammad (saw) yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Tuhan, satu-satunya Tuhan yang benar, yang tidak memiliki sekutu untuknya.

Aturan-aturan yang ditemukan dalam Islam sangat menarik bagi Uwais dan ketika seruan untuk Islam tiba di Yaman, ia segera memeluknya. Banyak rekannya yang telah memeluk Islam pergi ke Madinah untuk mendengarkan khotbah nabi Muhammad.

Bahkan hati orang-orang Uwa bergegas ke Madinah untuk menemui kekasih Allah, pemimpin para nabi, tetapi dia gagal karena dia tidak memiliki cukup persediaan untuk sampai ke sana. Selain itu, dia harus merawat ibunya. Jika dia pergi, siapa pun akan melihat ibunya. Dikatakan bahwa selama perang Uhud, Utusan Allah (semoga damai besertanya) menderita luka-luka dan giginya patah karena ia dilempari batu sampai mati oleh musuh-musuhnya.

Kerinduan Uwais Al-Qarni Terhadap Rasulullah SAW

Ketika hari-hari berganti dan musim-musim berlalu, keinginannya untuk Rasulullah tidak bisa dihentikan. Uwais bermeditasi dan bertanya dalam hatinya, dia bisa mengunjungi Nabi dan menghadapinya.

Akhirnya, suatu hari Uwais mendekati ibunya, membebaskan hatinya dan meminta izin ibunya untuk mengunjungi Utusan Allah (semoga damai besertanya) di Madinah. Sang ibu, meskipun sakit, tergerak untuk mendengarkan permintaan putranya. Dia memahami perasaan Uwais dan berkata, “Wahai putraku! Temui Nabi di rumahnya. Dan ketika Anda melihat diri Anda, lari pulang.

Dengan penuh kegembiraan, Uwais mengepak tasnya untuk pergi dan sebelum pergi, bersiap untuk meninggalkan ibunya dan meminta tetangga untuk menemani ibunya di sepanjang perjalanan.

Setelah mencium tangan ibu tercintanya, Uwais pergi ke Madinah, sekitar empat ratus kilometer dari Yaman.

Butuh waktu lama bagi Uwais al-Qarni untuk kembali ke Madinah. Segera setelah dia pergi ke rumah Nabi, dia mengetuk pintu rumah dan memberi hormat. Keluarlah ke Sayyidatina Aisha r.a., saat Anda merespons salam Uwais. Segera, Uwais meminta Nabi (saw) untuk menemuinya.

Tetapi ternyata dia tidak di rumah tetapi di medan perang. Betapa kecewa dia dengan keinginan, keinginannya, tetapi apa yang dia lewatkan tidak ada di rumah. Dalam hatinya dia ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Namun, dia ingat bahwa ibunya sudah tua dan dalam kondisi kesehatan yang buruk, sehingga dia bisa segera pulang ke Yaman.

Karena ketaatan ibunya, pesan ibunya memberinya harapan yang tulus untuk Nabi. Dia akhirnya memohon kepada Sayyidatina Aisyah r.a. untuk kembali ke Yaman. Dia menyapa Nabi dengan salam dan pergi dengan perasaan tak berdaya karena dia tidak bisa bertemu dengan Yang Tercinta.

Sepulangnya dari perang, Nabi melihat langsung bertanya tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat untuk diizinkan. Dia adalah penghuni langit.

Mendengar perkataan baginda Rasulullah saw, Sayyidatina Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun seketika. Lalu kata Sayyidatina Aisyah r.a., memang benar sebelum ini ada seseorang yang datang mencari Rasulullah melihat orangutan segera pulang ke Yaman, kerana teringat akan sudah tua dan sakit sekali.